JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL

SEMESTER V – 2013 / 2014

 

Kelompok : 3 B                                  Tanggal Praktikum :

Anggota :

Nurul Hidayah                        A 0111 025                                        

Muthia Ulfah                          A 0111 029   

Septa Rani Pajrin                    A 0111 034

Sani Hoeruman                       A 0111 039

Anisa Amalia                          A 0123 116

Assisten: Diah Lia Aulifa, S.Si, M.Si, Apt

                Siti Uswatun Hasanah, S.Farm.Apt. Baca entri selengkapnya »

Sampingan  —  Posted: Desember 12, 2013 in Uncategorized

analisis boraks

Posted: Desember 12, 2013 in Uncategorized

MAKALAH BORAKS

 

 

 

Nama kelompok :

  1. Risma permata sari
  2. Rakhmi eka
  3. Septa rani pajrin
  4. Caroline
  5. Yayang rusdi salih.

 

 

 

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESI

 

 

 

Rumusan MasSalah

a.Apakah yang dimaksud dengan boraks?

 b.Apakah fungsi boraks sebenarnya?

c.Apa saja penyalahgunaan boraks sebagai pengawet pada makanan?

d.Bagaimana efek boraks terhadap kesehatan?

e.Bagaimana cara menganalisis boraks pada makanan? Baca entri selengkapnya »

  1. I.                    TUJUAN

Menentukan tegangan permukaan/antarmuka suatu zat cair dengan metode tensiometer

 

  1. II.                  PRINSIP

ü  Berdasarkan gaya yang diperlukan untuk memisahkan cincin Pt atau pelat kaca dari permukaan cairan yang diukur.

ü  Berdasarkan cara du Nuoy dan pelat Wiihelmy. Baca entri selengkapnya »

makalah biologi ( SISTEM REPRODUKSI )

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Pada manusia untuk menghasilkan keturunan yang baru diawali dengan peristiwa fertilisasi. Sehingga dengan demikian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual. Baca entri selengkapnya »

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Tujuan

Dapat melakukan uji aktivitas antimikrobia dengan menggunakan metode difusi cara cakram kertas (disk method).

1.2  Latar Belakang

Resistensi terhadap antibiotika adalah fenomena yang alami. Bila suatu antibiotika digunakan, bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat terus hidup daripada bakteri lain yang lebih “rentan.” Bakteri yang rentan akan dapat dibasmi atau dihambat pertumbuhannya oleh suatu antibiotika, menghasilkan suatu  tekanan selektif terhadap bakteri lain yang masih bertahan hidup untuk menciptakan turunan yang resisten terhadap antibiotika. Namun demikian, bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika dalam jumlah yang sangat tinggi sekarang ini disebabkan karena adanya penyalahgunaan dan penggunaan antibiotika secara berlebihan. Di beberapa negara dan melalui internet, antibiotik dapat dibeli tanpa adanya resep dokter. Pasien kadang-kadang minum antibiotik meskipun ia tidak membutuhkannya, untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti selesma(1).

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar ke anggota keluarga, teman ataupun tetangga lain sehingga mengancam masyarakat akan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya pengobatannya(2).

 

 

1.3. Tinjauan Pustaka

Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander Fleming pada tahun 1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940, maka antibiotika bisa dibilang merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan & kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis(1).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik. Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal dan tidak mati walau diberi antibiotik(2). Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis, yaitu (1) resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteriStaphylococcus       yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu; (2) resistensi sekunder, yaitu karena adanya muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten; (3) resisten episomal atau plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis; serta (4) resistensi silang, yaitu resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum dalam waktu singkat(3).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek antibiotic. Resistensi antibiotic terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi. Akibatnya bakteri tersebut dapat bertahan hidup dan bereproduksi sehingga makin membahayakan. Bakteri tersebut dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat adanya anggapan bahwa yang resisiten terhadap obat tertentu adalah tubuh orang, padahal sebenasrnya bakteri yanag ada di dalam tubuh tersebutlah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan tubuhnya(2).

Antibiotik menghentikan atau mengganggu sejumlah proses seluler sehari-hari yang mengandalkan bakteri untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup, seperti:

  • melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
  • mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan asam amino
  • mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
  • memblokir sintesis DNA dan RNA (1)

Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai indikator pengujian. Dalam hal ini mikroorganisme digunakan sebagai penentu konsentrasi komponen tertentu pada campuran kompleks kimia, untuk mendiaknosis penyakit tertentu tertentu, serta untuk menguji bahan kimia guna menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan. Macam-macam uji yang dapat dilakukan adalah uji antibiotik/antimikroba, bioautografi, uji vitamin dan asam amino, uji ames, dan penggunaan mikroorganisme sebagai model metabolisme obat mamalia (4).

Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan  yang efektif dan efesien. Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti yang dijelaskan berikut ini:

Metode difusi

  • Metode disc diffusion (tes Kirby dan Bauer) untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba permukaan media agar. (lihat gambar)

 

  • E-test

Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitory concentration) atau KHM (kadar hambat minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghabat pertumbuhan mikroorganisme.

Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakkan permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.(lihat gambar)

 

  • Ditch-plate technique

Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji ( maksimum 6 macam ) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba.

  • Cup-plate technique

metode ini serupa dengan mitode disc diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.

  • Gradient-plate technique

Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media agar secara teoretis bervariasi dari 0 hingga maksimal. Media agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituang kedalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua selanjutnya dihitung diatasnya.

Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan media mengering. Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi tinggi ke rendah. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan.

Bila: X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media mg/mL atau μ/mL,

Maka konsentrasi hambatan adalah: [(X.Y)]: C mg/mL atau μg/mL.

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat dari lingkungan padat dan cair faktor difusi agen antimikroba dapat mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat(4).

 

 

BAB II

METODE PERCOBAAN

 

2.1.      ALAT DAN BAHAN

 

            Alat :

ü    Tabung reaksi

ü    Cawan petri

ü    Mikro pipet

ü    Blue & yellow tip

ü    Erlenmeyer

ü    Beaker glass

ü    Autoclave

ü    Laminar Air Flow (LAF)

ü    Lampu spiritus

 

Bahan :

ü    Nutrient agar

ü    Mikroba uji (feces)

ü    Paper disk yang mengandung : Amoxicillin, Ampicillin, Gentamicin,       Sulfametoksazon

 

 

2.2.      CARA KERJA

Disiapkan mikroba uji yang akan digunakan (mikroba uji dari hasil persiapan pada praktikum sebelumnya)

Disiapkan dan disterilisasi 50 ml media nutriet agar dalam erlenmeyer

Masing-masing kelompok membuat dua media nutrient agar

Media nutrient agar, yellow & blue tip, serta cawan petri di sterilisasi dengan autoclave selama 15 menit dengan suhu 1210C

Setelah agak dingin ditambahkan 200µl mikrobia uji dalam LAF, dihomogenkan

Dituang dalam petri steril, ditunggu sampai beku

Pada petri pertama, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Sulfametoksazol dan ampicillin serta blanko sebagai control negatif

Pada petri kedua, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Amoxicillin dan Gentamicin serta blanko sebagai control negatif

Diinkubasi 37oC selama 24 jam

Diinterpretasikan hasil dengan antibiogram

Diukur diameter  hambatannya untuk masing-masing sampel/antibiotik dengan masing-masing mikrobia uji

     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. HASIL PERCOBAAN

Jenis / jumlah sample         : Feces / 200 µl

 

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan electric counter

(Terlampir)

 

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan jangka sorong

Ukuran paper disk = 6mm

  1. Sulfametoksazol = 2,03 cm = 20,3 mm

Zona hambat = 20,3 – 6 = 14,3 mm

  1. Ampicillin = (tidak bereaksi)
  2. Amoxicillin = 0,61 cm = 6,1 mm

Zona hambat = 6,1 – 6 = 0,1 mm

  1. Gentamicin = 1,01cm = 10,1 mm

Zona hambat = 10,1 – 6 = 4,1 mm

 

3.2 PEMBAHASAN

            Pada praktikum kali ini dilakukan uji resistensi bakteri terhadap antibiotika menggunakan metode difusi yang bertujuan agar dapat melakukan uji aktivitas mikrobia dengan menggunakan metode difusi cara sumuran dan cakram kertas (disk method), dapat melakukan uji aktivitas antimikrobia dengan menggunakan metode dilusi cair maupun dilisi padat.

Siapkan mikroba uji yang akan digunakan yang berasal dari paktikum sebelumnya, kemudian dibuat media nutrient agar sebanyak 50 ml yang akan di bagi ke dalam 2 erlenmeyer, lalu disterilisasi di dalam autoklaf. Setelah disterilisasi media yang masih mencair ditambahkan dengan 200 µl mikroba uji, dihomogenkan. Lalu dituangkan kedalam petri steril. Penuangan dilakukan di dalam LAF yang sudah disterilisasi sebelumnya. Ditunggu sampai beku. Setelah beku pada petri pertama dipasang paper disk yang mengandung antibiotic sulfametoksazol dan ampisilin, juga paper disk blanko. Pada petri kedua dipasang paper  disk yang mengandung antibiotic amoksisilin dan gentamisin, juga paper disk blanko. Kemudian kedua petri dimasukkan dalam incubator selama 18-24 jam pada suhu 27o C. Metode ini dinamakan metode Kirby-Bauer. Pada saat pemasangan paper disk sedikit ditekan agar tidak jatuh saat dimasukkan kedalam incubator secara terbalik.

Ada beberapa macam metode untuk uji resistensi bakteri, antara lain :

  1. Metode dilusi. Prinsipnya yaitu antibiotic diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi.
    1. Dilusi cair. Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan suspensi kuman atau bakteri didalam media.
    2. Dilusi padat.  Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan media agar, lalu ditanami bakteri.
    3. Metode difusi
      1. Kirby-Bauer. Menggunakan kertas disk yang sudah mengandung antibiotic dan diketahui konsentrasinya.
      2. Sumuran. Pada media agar ditambahkan suspensi bakteri, kemudian dibuat lubang ditengah dan ditetesi antibiotic.
      3. Pour plate. Suspensi bakteri diambil menggunakan ose lalu dimasukkan dalam media agar, setelah beku digunakan disk antibiotik diatasnya.
      4. E-test. Menggunakan plastic strip yang mengandung antibiotic yang sudah diketahui konsentrasinya.
      5. Gradient test. Seperti cara sumuran hanya saja lubang yang dibuat menyerupai garis tengah, sehingga media pada petri terbelah dua.

Hari berikutnya dilakukan pengukuran diameter hambat dari masing-masing antibiotic menggunakan jangka sorong dan diperoleh data : zona hambat sulfametoksazol 14,3 mm ; amipisilin 0 mm ; amoksisilin 0,1 mm ; gentamisin 4,1 mm. Dan juga dilakukan pengukuran zona hambat dengan menggunakan electric counter dan diperoleh data :  zona hambat sulfametoksazol 21,5 mm ; amipisilin 0 mm ; blanko 1 8,5 mm ; amoksisilin 10,0 mm ; gentamisin 19,3 mm ; blanko 2 8,5 mm.

Pada data terdapat antibiotik yang tidak bisa menghambat pertumbuhan bakteri dikarenakan antibiotik yang digunakan tidak spesifik terhadap bakteri yang ditanam didalam media, ataupun terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut dengan berbagai mekanisme.

Mekanisme kerja antibiotik antara lain :

  1. Menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga menghambat perkembang biakan dan  menimbulkan lisis. Contoh : penisilin dan sefalosforin.
  2. Mengganggu keutuhan membrane sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan kehilangan cairan intraseluler. Contoh : nistatin.
  3. Menghambat sintesis protein sel bakteri. Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin.
  4. Menghambat metabolisme sel bakteri. Contoh : sulfonamide.
  5. Menghambat sintesis asam nukleat. Contoh : rifampisin dan golongan kuinolon.(5)

Sifat antibiotik sebaiknya menghambat atau membunuh mikroorganisme patogen tanpa merusak inang, bersifat bakterisid, tidak menyebabkan resistensi pada kuman, tidak bersifat alergenik  atau tidak menimbulkan efek samping bila digunakan dalam jangka waktu lama, larut dalam air, serta stabil (6).

pem dapus

Posted: Desember 21, 2012 in Uncategorized

Dalam percobaan ini mengenai rekristalisasi, dimana rekristalisasi merupakan pemurnian zat padat dari campuran atau pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang cocok, atau singkatnya rekristalisasi dapat disebut sebagai pemurnian kristal kembali. Pada percobaan kali ini sampel yang akan kita murnikan kembali berupa asam benzoat.
Untuk percobaan ini, pada saat pembuatan kristal atau melarutkan asam benzoat dengan air harus dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan ini bertujuan agar antara sampel dan aquades tersebut proses kelarutannya dapat dipercepat. Pemanasan ini dilakukan karena asam benzoat dan air bila dilarutkan sukar larut akibat sifat asam benzoat yang semi polar sehingga perlu dipanaskan agar kelarutan antara sampel dengan air dapat cepat larut.
Kelarutan dapat kita artikan sebagai jumlah maksimum suatu zat terlarut yang dapat larut dalam suatu pelarut tertentu. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi kelarutan antara lain suhu, konsentrasi, luas permukaan zat terlarut dan juga tekanan.
Apabila suatu larutan dipanaskan, maka dapat mempecepat proses kelarutannya. Hal ini disebabkan pada suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik partikel – partikelnya. Sehingga tumbukan antar partikel sering terjadi, akibat reaksi semakin cepat. Begitu pula untuk faktor konsentrasi, semakin besar konsentrasinya maka proses kelarutannya pun akan semakin cepat.
Untuk luas permukaan semakin luas permukaan bidang sentuh maka proses kelarutannya akan semakin cepat karena pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran yang selanjutnya kita sebut, makin cepat kelarutannya. Sebagaimana yang telah diketahui, makin halus kepingan zat padat makin luas permukaannya, begitu pula sebaliknya.
Dalam percobaan ini, praktikan menggunakan beberapa bahan diantaranya asam benzoat, norit, aquades dan es batu. Asam benzoat yang berbentuk padatan dan memiliki titik didih tinggi serta bersifat mengawetkan, pada percobaan ini bertindak sebagai sampel atau solutenya (zat terlarut). Aquades bertindak sebagai pelarut (solven) yang berfungsi untuk melarutkan asam benzoat. Asam benzoat bersifat semi polar yang bila dicampur dengan air yang bersifat polar diperlukan pemanasan terlebih dahulu. Norit merupakan arang aktif yang bertindak sebagai pengikat atau penyerap zat – zat pengotor yang ikut terlarut dalam kristal. Digunakan juga es batu pada percobaan ini, hal ini bertujuan untuk mempercepat proses pembentukan kristal lagi. Kristal yang terbentuk dari proses rekristalisai lebih halus (lebih murni) dari bentuk kristal semula, namun kristal yang terbentuk jumlahnya jauh lebih sedikit. Ini dapat disebabkan oleh penyaringan yang kurang sempurna.
Kristalisasi merupakan proses pembentukan kristal. Faktor – faktor yang mempengaruhi diantaranya laju pembentukan ini (nukleasi) dan laju pembentukan kristal. Jika laju pertumbuhan ini bergantung pada derajat lewat jenuh suatu larutan semakin tinggi derajat lewat jenuh suatu larutan semakin besar pula kemungkinan untuk membentuk inti baru.
Prinsip like disolve like pada larutan menyatakan bahwa suatu zat atau larutan polar akan cenderung larut pada pelarut polar juga, dan begitu pula sebaliknya, zat atau larutan non polar akan cenderung larut pada pelarut non polar juga. Analisa yang digunakan dalam percobaan ini merupakan analisa kuantitatif atau berdasarkan perhitungan.

VIII. KESIMPULAN
1. Rekristalisasi merupakan pemurnian kembali kristal.
2. Norit merupakan arang aktif yang berfungsi untuk mengikat zat – zat pengotor yang ikut tercampur dalam kristal.
3. Proses pemanasan campuran bertujuan untuk mempercepat kelarutan.
4. Proses pembentukan kristal dipengaruhi oleh laju pembentukan ini (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal.
5. Analisa yang digunakan merupakan analisa kuantitatif.

IX. DAFTAR PUSTAKA
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar II. Jakarta : Erlangga
Harifsyah.(2009).Rekristalisasi.[Online].Tersedia:http://harifsyah21.multiply.com/journal/item/2/Rekristalisasi_ diakses pada tanggal 1 Mei 2011. Pukul : 20.40
Hiyu.(2010).Kristalisasi,Rekristalisasi.[Online].Tersedia:http://catetankuliah.blogspot.com/2010/11/kristalisasi-rekristalisasi.html diakses pada tanggal 1 Mei 2011.Pukul : 20.55
Rakhmat,Ugi.(2010).Rekristalisasi.[Online].Tersedia:http://kimiamagic.blogspot.com/2010/02/rekristalisasi.html diakses pada tanggal 1 Mei 2011. Pukul : 20.15
Shofyan.(2010).Rekristalisasi.[Online].Tersedia:http://forum.um.ac.id/index.php?topic=25245.0 diakses pada tanggal 1 Mei 2011. Pukul : 20.25

Gultom, Ostan, Jeski. 2011. Rekristalisasi. http://eiffelgultom.blogspot.com/2011/05/rekristalisasi.html (Diposkan oleh Eiffel Ostan Jeski Gultom di 09:54)

rekristalisasi

Posted: Desember 21, 2012 in Uncategorized

Filtrat didinginkan pada suhu kamar sampai terbentuk Kristal. Kadang – kadang pendinginan ini dilakukan dalam air es. Penambahan umpan ( seed) yang berupa Kristal murni ke dalam larutan atau penggoresan dindingwadah dengan batang pengaduk dapat mempercepat rekristalisasi.5.Penyaringan dan pendinginan KristalApabila proses kristalisasi telah berlangsung sempurna, Kristal yangdiperoleh perlu disaring dengan cepat menggunakan corong Buchner.Kemudian Kristal yang diperoleh dikeringkan dalam eksikator. 2.Aspirin Aspirin ( asetosal ) adalah suatu ester dari asam asetat dengan asam salisilat.Oleh karena itu senyawa ini dapat dibuat dengan mereaksikan asam salisilatdengan anhidrida asam asetat menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator.Persamaan reaksinya :Asam asetat dengan nama sistematik asam etanoat, CH 3 COOH, merupakancairan tidak berwarna, berbau tajam, dan berasa asam. Asam asetat larut dalam air dan pelarut organik lainnya. Di dalam air, asam asetat bertindak sebagai asamlemah. Asam asetat mendidih pada temperatur 118°C (245°F) dan meleleh pada17°C (62°F). Asam asetat biasanya dibuat dengan memfermentasikan alkoholdengan bantuan bakteri, seperti Bacterium aceti. Untuk mendapatkan asam asetatyang berkonsentrasi tinggi, biasanya dibuat dengan oksidasi asetaldehida ataudengan mereaksikan methanol dengan karbon monoksida dengan bantuan katalis. Asam salisilat dapat ditemukan pada banyak tanaman dalam bentuk metalsalisilat dan dapat disintesa dari fenol. Asam salisilat memiliki sifat-sifat: berasamanis, membentuk kristal berwarna putih, sedikit larut dalam air, meleleh pada158,5°C – 161°C. Asam salisilat biasanya digunakan untuk memproduksi ester dan garam yang cukup penting. Asam salisilat menjadi bahan baku pembuatanaspirin. Sintesa asam salisilat yang terkenal adalah Sintesis Kolbe.Asam asetil salisilat atau yang lebih dikenal sekarang sebagai aspirin memilikinama sistematik 2 – acetoxybenzoic acid. Aspirin yang merupakan bentuk salahsatu aromatic asetat yang paling dikenal dapat disintesa dengan reaksi esterifikasigugus hidroksi fenolat dari asam salisilat dengan menggunakan asam asetat.Aspirin memiliki sifat – sifat sebagai berikut : Mr = 180, titik leleh = 133,4°C,dan titik didih = 140°C.Pada pembuatan aspirin, reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi. Reaksiesterifikasi tersebut dapat dilihat dari gambar di atas, dengan penjelasan sebagai berikut :Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol dengananhidrida asam. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karenamempunyai gugus –OH, sedangkan asam asetat glacial sebagai anhidrida asam.Ester yang terbentuk adalah asam asetil salisilat ( aspirin ). Gugus asetil( CH3CO– ) berasal dari asam asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asamsalisilat. Hasil samping reaksi ini adalah asam asetat. Langkah selanjutnya adalah penambahan asam sulfat pekat yang berfungsi sebagai zat penghidrasi. Telahdisebutkan di atas bahwa hasil samping dari reaksi asam salisilat dan asam asetatglacial adalah asam asetat. Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asamsalisilat habis karena adanya asam sulfat pekat ini.Aspirin bersifat analgesik yang efektif sebagai penghilang rasa sakit. Selainitu, aspirin juga merupakan zat anti-inflammatory, untuk mengurangi sakit padacedera ringan seperti bengkak dan luka yang memerah. Aspirin juga merupakan zat antipiretik yang berfungsi untuk mengurangi demam. Tiap tahunnya, lebihdari 40 juta pound aspirin diproduksi di Amerika Serikat, sehingga rata-rata penggunaan aspirin mencapai 300 tablet untuk setiap pria, wanita serta anak-anak setiap tahunnya. Penggunaan aspirin secara berulang-ulang dapat mengakibatkan pendarahan pada lambung dan pada dosis yang cukup besar dapat mengakibatkanreaksi seperti mual atau kembung, diare, pusing dan bahkan berhalusinasi. Dosisrata-rata adalah 0.3-1 gram, dosis yang mencapai 10-30 gram dapatmengakibatkan kematian. 3.Titik Leleh Yang dimaksud titik leleh suatu senyawa ialah suhu dimana senyawa tersebutmulai meleleh. Senyawa – senyawa murni suhunya hampir tetap selama melelehatau disebut juga mempunyai titik leleh yang tajam, misalnya 125,5° – 126° atau180° – 181°, sedangkan untuk cuplikan yang sama tetapi tidak murni akan meleleh pada interval suhu yang lebar, missal 123° – 126° atau 176° – 180°. Pengotoranyang menyebabkan penurunan titik leleh ini mungkin sekali suatu bahan berbentuk resin yang tidak diidentifikasi atau senyawa lain yang mempunyai titik leleh lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa utamanya. Bila suatu senyawa Ayang murni meleleh pada suhu 150° – 151° dan senyawa B murni meleleh padasuhu 120° – 121°, maka bila senyawa A ditambah senyawa B, campuran ini akanmeleleh secara tidak tajam pada daerah suhu di bawah 150°. Sebaliknya bilasenyawa B ditambah sedikit senyawa A, campuran ini akan meleleh di atas suhu120°.Kriteria kemurnian suatu zat adalah titik lelehnya yang tajam, disamping itu jika kita mempunyai senyawa – senyawa baku, maka ditentukan denganmenentukan titik leleh campuran. Mula – mula senyawa baku ditentukan titik lelehnya kemudian senyawa yang tidak diketahui dicampur dengan senyawa baku,lalu titik lelehnya ditentukan lagi. Bila titik leleh campuran sama dengan titik leleh senyawa baku, berarti senyawa yang tak diketahui itu sama dengan senyawatersebut. Alat penentu titik leleh ada beberapa macam mulai yang manual hinggadigital seperti thiele, Fisher John Melting point apparatus, blok logam atau dengansystem digital